Gangguan berbicara (Cadel)
Nama : Yasinta Septi Aisyah
NIM : A1D117036
E-mail : septiyasinta@gmail.com
GANGGUAN
BERBICARA CADEL
Latar belakang
Bahasa
sebagai alat komunikasi akan terhambat apabila tidak didukung oleh artikulasi
yang tepat. Seperti dalam pergaulan sehari-hari sering kali kita menjumpai
seseorang yang mengalami kesulitan dalam menghasilkan bunyi bahasa konsonan
getar apiko alveolar. Bunyi bahasa konsonan getar apiko alveolar yaitu bunyi
bahasa yang menggunakan ujung lidah dan gusi. Ujung lidah berfungsi sebagai
artikulator aktif yang menyebabkan proses mengetar dan gusi sebagai artikulator
pasif. Bunyi yang dihasilkan adalah konsonan getar “r”. Bagi orang yang
mengalami kesulitan menyebut huruf ‘r”, maka kata-kata yang mengandung huruf
“r” yang diucapkan sekilas kedengaran seperti ucapan seorang anak usia balita.
Hal ini terjadi karena fungsi bunyi bahasa konsonan getar apiko alveolar
digantikan dengan bunyi bahasa konsonan lateral apiko alveolar, bunyi itu ialah
“l”. Hal inilah yang dikenal dengan istilah cadel. Pada anak usia balita, hal
ini dianggap wajar karena perkembangan organ artikulasinya belum sempurna. Lain
halnya pada orang dewasa yang seluruh organ tubuhnya termasuk organ artikulasinya
juga telah mengalami tahap sempurna dalam perkembangannya.
Pada
umumnya cadel ini tidaklah dianggap suatu masalah serius karena tidak tergolong
jenis penyakit atau gejala penyakit dan tidak akan menimbulkan komplikasi
penyakit (Sidabutar, 1986). Pada beberapa suku bangsa bukanlah merupakan
sesuatu yang mencolok bagi mereka bahwa hal ini merupakan sesuatu kelainan
seperti pada bangsa Cina, dalam alfabetnya memang tidak terdapat huruf “r” sehingga
menyebabkan gangguan fungsi pada artikulatornya karena tidak terbiasa mengeja
“r”. Demikian pula pada masyarakat Inggris dan beberapa bangsa Negara eropa
lainnya, walaupun dalam alphabet mereka terdapat huruf “r” tapi, tidak
dihasilkan dari bunyi bahasa konsonan getar apiko alveolar, melainkan oleh
bunyi bahasa konsonan getar uvular dan konsonan geseran apiko palatal. Konsonan
getar uvular terjadi bila artikulator aktif yang menyebabkan bergetarnya udara
itu ialah pangkal lidah (lidah belakang) dan artikulator pasifnya.
Konsonan
geseran apiko palatal terjadi bila artikulator aktifnya ialah ujung lidah dan
artikulator pasifnya ialah langit-langit keras (Marsono, 1989; Sidabutar, 1994;
Samsuri, 1978). Selain karena pengaruh lingkungan tadi (sosiokultural) cadel
juga dapat dijumpai pada penderita down syndrome, akibat stroke atau pada
penderita penyakit yang berhubungan dengan syaraf (Sidabutar, 1994; Sidarta,
1986). Adapun yang disebabkan oleh karena adanya pengaruh faktor keturunan
belum diketahui secara pasti.
A Pengertian Cadel
Cadel
adalah ketidakmampuan mengucapkan satu huruf unik, umumnya huruf R, meski ada
juga sebagian orang yang justru bisa menyebut huruf R, namun cadel untuk huruf
lainnya. Orang Jepang misalnya, kebanyakan cadel pada huruf L. Ada beragam
variasi cadel pada anak. Ada yang menyebut “R” jadi “L”, “K” jadi “T”, “K” jadi
“D”, atau “S” dengan “T”, sering terbalik-balik. Tetapi tiap anak variasinya
berbeda-beda. Jadi yang dimaksud dengan cadel adalah kesalahan dalam pengucapan.
Untuk mengatasinya, orang tua harus menunjukkan perhatian padanya yang tidak
akan berkurang karena kehadiran adik.
Selain itu, orang tua harus terus mengajak
anak bicara dengan bahasa yang benar, jangan malah menirukan pelafalan yang
tidak tepat. Memang semestinya pada rentang usia pra-sekolah, anak sudah bisa
mengucapkan seluruh konsonan dengan baik. Sebab menginjak usia 3-4 tahun,
otot-otot lidahnya mulai matang. Hanya saja, perkembangan setiap anak berbeda.
Jadi wajar meski usianya sama tapi masih ada anak yang cadel. Sayangnya, cukup
sulit mendeteksi, apakah kecadelan di usia 3-5 tahun akan berlanjut terus atau
tidak karena menyangkut sistem saraf otak yang mengatur fungsi bahasa, yakni
area broca yang mengatur koordinasi alat-alat vokal dan area wernicke untuk
pemahaman terhadap kata-kata.
Memang
semestinya pada rentang usia pra-sekolah, anak sudah bisa mengucapkan seluruh
konsonan dengan baik. Sebab menginjak usia 3-4 tahun, otot-otot lidahnya mulai
matang. Hanya saja, perkembangan setiap anak berbeda. Jadi wajar meski usianya
sama tapi masih ada anak yang cadel. Sayangnya, cukup sulit mendeteksi, apakah
kecadelan di usia 3-5 tahun akan berlanjut terus atau tidak karena menyangkut
sistem saraf otak yang mengatur fungsi bahasa, yakni area broca yang mengatur
koordinasi alat-alat vokal dan area wernicke untuk pemahaman terhadap
kata-kata. Kerusakan pada area broca disebut motor aphasiam yang membuat anak
lambat bicara dan pengucapannya tak sempurna sehingga sulit dimengerti.
Sedangkan kerusakan pada area wernicke disebut sensori aphasia di mana anak
dapat berkata-kata tapi sulit dipahami orang lain dan dia pun sulit untuk
mengerti kata-kata orang lain
B.
Penyebab Terjadinya Cadel
Menurut
dr. Lily Sidiarto daribagian Neurologi FKUI-RSCM, Jakarta, cadel adalah salah
satu bentuk disartri yaitu sebutan untuk gangguan artikulasi (pengucapan kata)
yang disebabkan oleh gangguan struktur atau gangguan fungsi dari organ
artikulasi. Cadel dapat disebabkan oleh gangguan struktur antara lain karena
ukuran lidahnya relatif pendek atau kelainan pada otot yang terdapat dibawah lidah.
Adanya kelainan kedua otot tadi bisa menyebabkan gerakan lidah menjadi kurang
baik. Penyebab cadel bisa juga disebabkan oleh gangguan fungsi. Gangguan fungsi
organ artikulasi dapat terjadi karena kelainan pada otak. Misalnya penderita
celebropalsy (cp), yaitu kelumpuhan syaraf pusat, yang antara lain menyebabkan
kelemahan motorik otot. Resikonya kecepatan kerja lidah akan berkurang.
Penderita down syndrome berakibat kerja lidahnya kurang bagus. Down syndrome,
selain menyebabkan intelegensinya rata-rata minus, tonus otot lidahnya pun
lemah sehingga menyebabkan cadel (Sidabutar, 1994).
Orang
cadel sulit melafalkan huruf R kerena ada beberapa faktor yang mempengaruhi,
diantaranya :
1.
Faktor Lingkungan Faktor lingkungan bisa disebabkan karena kondisi keluarga
pada tahap pembelajaran anak berinteraksi berbicara cadel .Kebiasaan mengajari
anak berinteraksi seperti itu yang menadi kebiasaan, mungkin orangtua
beranggapan bahwa anknya masih dini belum bisa berbicara R, sehingga terbiasa
menggunakan huruf L sebagai pengganti.
2.
Faktor Psikologis Faktor psikologis banyak yang mengatakan bahwa kehadiran adik
menyebabkancadel karena kebiasaan meniru. Hubungan keluarga yang kurang
harmonis dapat menyebabkan cadel.
3.
Faktor Kesehatan Faktor kesehatan karena gangguan pada mulut, keterlambatan
berbicra dan pendenganran serta gen yang dapat menurun kepada anaknya.
Penyebab lain anak
menjadi cadel dapat dilihat dari beberapa hal yaitu sebagai berikut:
1. Kurang matangnya koordinasi bibir dan
lidah. Kemampuan mengucapkan kata-kata vokal, konsonan secara sempurna sangat
bergantung pada kematangan sistem saraf otak, terutama bagian yang mengatur
koordinasi motorik otototot lidah.
2.
Kelainan fisiologis berupa gangguan pada bagian pendengaran, gangguan pada
otak, dan gangguan di wilayah mulut.
3.
Faktor lingkungan. Biasanya orang tua yang membiarkan anaknya cadel, bahkan
ikut mengikuti ucapan si anak.
4.
Faktor psikologis bisa menjadi penyebabnya. Mungkin anak yang kurang perhatian
orang tua karena kehadiran sang adik, menjadi ikutikutan gaya bicara adik yang
cadel.
Anak yang masih menemui kesulitan
mengucapkan kata-kata dengan jelas bisa saja merupakan akibat dari beberapa hal
berikut ini:
1.
Penggunaan dot atau empeng – Menggunakan dot terlalu lama bisa membuat anak
mengalami cadel karena lidah anak terdorong ke depan dan berada di antara
giginya. Kondisi demikian bisa membuat anak tidak jelas ketika mengucapkan
huruf S dan Z.
2.
Tongue Tied – Kondisi yang juga disebut Ankyloglossia ini merupakan suatu
keadaan dimana ketika Frenulum Lingue, jaringan yang menempel di bawah lidah
sampai ke bagian bawah mulut terlalu pendek. Keadaan ini akan membatasi
pergerakan lidah ketika berbicara, dan hal ini biasanya terjadi sejak bayi
lahir atau merupakan bawaan lahir.
3.
Kelainan Fisiologis lain – Cadel juga bisa disebabkan oleh kelainan fisiologis
lain seperti kelainan pendengaran dan gangguan pada otak, atau kelainan
pembentukan langit – langit mulut.
4.
Lingkungan – Dalam kondisi ini, anak menjadi cadel bukan karena masalah
perkembangan fisiknya, melainkan karena orang tuanya membiasakan berbicara
dengan logat cadel dengan sang anak. Sehingga si kecil menganggap bahwa hal itu
adalah cara berbicara yang normal untuk dilakukan.
C.
Solusi
Salahsatu
solusi untuk menagani anak yang mengalami gangguan berbicara cadel dapat
diatasi dengan cara orang tua harus menuntun anak melafalkan ucapan yang benar,
orang tua harus menghentikan kebiasaan berkata cadel, dan orang tua harus
mengajak anak bicara dengan bahasa yang benar. Namun jika penyebab cadel karena
faktor fisiologis tentu relatif dapat diatasi, tergantung kategori ringan atau
berat. Umumnya bila penyebab masuk dalam kategori berat penyakitnya maka bisa
jadi cadel yang menetap dan jika tergolong ringan, maka cadelnya tidak menetap.
Komentar
Posting Komentar