OBSERVASI PENGGUNAAN BAHASA PADA ANAK
Nama : Yasinta Septi aisyah
NIM : A1D117036
Ruang : 001
Semester : V (lima)
E-mail : septiyasinta@gmail.com
OBSERVASI
PENGGUNAAN BAHASA PADA ANAK
PENDAHULUAN
Menurut
Wibowo (2001:3), bahasa ialah sistem simbol bunyi yang bermakna serta
berartikulasi (dihasilkan oleh alat ucap) yang mempunyai sifat arbitrer serta
konvensional, yang dipakai sebagai alat berkomunikasi oleh sekelompok manusia
untuk melahirkan perasaan serta pikiran. Dalam pemerolehan bahasa manusia,
bahasa yang pertama kali digunakan disebut pemerolehan bahasa pertama. Ciri
dalam pemerolehan bahasa pertama antara lain :
·
Tidak
ada unsur kesengajaan.
·
Tidak
ada jadwal khusus
·
Tidak
ada urutan-urutan yang harus dipelajari.
dalam pemerolehan
bahasa kedua, Ellis menyebutkan bahwa ada 2 tipe pemerolehan bahasa, yaitu tipe
naturalistic dan tipe formal.
1. Tipe Naturalistik
Tipe ini paling banyak dialami dan ditemukan
hampir di seluruh penjuru dunia. Dalam kehidupan kota besar yang penduduknya
heterogen, misalnya, akan sangat banyak dijumpai kehidupan yang sangat beragam,
baik segi budaya maupun bahasanya. Khusus dalam pemakaian bahasa sehari-hari,
dalam kelompok masyarakat seperti ini akan sangat dengan mudah dijumpai adanya
keluarga yang memakai bahasa daerah ketika mereka berkumpul dengan keluarganya
dan menggunakan bahasa kedua (baca : bahasa nasional). Contoh kasus yang banyak
dijumpai di kota-kota besar di Indonesia adalah pengamatan dari penulis tentang
pemerolehan bahasa kedua pada diri seorang anak yang lahir dari keturunan suku
Bugis yang merantau di kota Samarinda, sebutlah namanya Ulil.
Dalam pola
pengasuhan si anak dalam keluarga, kedua orang tua anak tersebut memakai bahasa
Ibu yang kebetulan adalah bahasa Bugis. Akan tetapi karena heterogennya, maka
dalam pergaulan sehari-hari dengan teman sebayanya ataupun ketika berinteraksi
dengan orang-orang di lingkungan sekitarnya, mereka menggunakan bahasa
Indonesia. Karena hal ini dilakukan secara terus menerus, maka Ulil dapat
menguasai bahasa keduanya secara natural. Contoh kasus lain dalam pemerolehan
bahasa kedua menurut Chaer dan Agustina, ketika dua orang mahasiswa dari
Tapanuli menimba ilmu (kuliah) di kota Malang, Jawa Timur, pada awalnya mereka
sama sekali tidak memahami apalagi bisa berkomunikasi dengan bahasa Jawa. Namun
karenalingkungan sekitarnya baik di kampus, kos, pasar maupun tempat-tempat
lainnya di Malang hampir semuanya berkomunikasi dengan bahasa Jawa, pada
akhirnya mereka pun bisa menguasai bahasa Jawa. Hal ini tentu saja dilalui
dengan proses berusaha dan belajar untuk bisa menguasainya. Dari menguasai
beberapa kosa kata, mereka kemudian mencoba merangkai menjadi klausaklausa
pendek dan masih menggunakan logat Tapanuli. Setelah dua tahun berjalan, mereka
akhirnya bisa menguasai bahasa Jawa yang mulai bisa menghilangkan aksen atau
logat Tapanuli mereka yang pada akhirnya bisa hilang sama sekali.
2. Tipe Formal.
Walaupun dalam
“The McGill Conference In Honour of Wallace E. Lambert” yang diedit oleh Allan
G. Reynolds dinyatakan bahwa pengembangan pemerolehan dan pembelajaran bahasa
akan dapat berkembang secara lebih efektif bila diaplikasikan dalam kehidipan
sosial (naturalistic) 4 , tetapi menurut banyak ahli bahwa tipe pemerolehan
bahasa secara formal seharusnya bisa mendapatkan output yang lebih baik
daripada pola naturalistic. Tipe ini biasanya terjadi di dalam kelas dengan
bimbingan seorang guru, materi, media dan alat bantu pembelajaran yang sudah
dipersiapkan secara baik.. Akan tetapi dewasa ini banyak sekali ditemui, utamanya
di Indonesia adalah sebuah kenyataan bahwa walaupun sudah mempelajari bahasa
kedua (bahasa Inggris) semenjak dari bangku sekolah dasar, tetapi pada
kenyataannya si anak masih sangat sulit untuk bisa mengaplikasikannya ketika
suatu ketika anak tersebut harus menggunakannya untuk berinteraksi, baik
didalam kelas apalagi diluar kelas. Menurut analisa penulis, hal ini disebabkan
oleh beberapa faktor, diantaranya adalah kedisiplinan guru dan siswa, bahan
ajar yang kurang baik, kualitas pengajar dan lingkungan yang kurang mendukung.
Faktor-faktor tersebut tentunya akan dapat diperbaiki manakala ada usaha
perbaikan pencapaian kualitas yang dilakukan baik oleh pihak siswa, guru maupun
pihak ketiga yang bisa membantu untuk memberikan pelatihanpelatihan kepada pengajar
demi peningkatan kualitas pengajar, tentunya dengan penyesuaian materi
pelatihan yang diberikan dan persiapan-persiapan lainnya untuk meraih hasil
yang maksimal. Tanpa usaha dan persiapan yang maksimal, niscaya hasilnya juga
pasti minimal. Beberapa tokoh sudah banyak menyatakan bahwa meskipun studi
tentang metodologi belajar bahasa kedua ataupun bahasa asing telah banyak
dilakukan dengan memakan waktu sekian lama dan biaya yanga sangat besar, tetapi
belum banyak mengubah cara orang untuk belajar bahasa.
HASIL PENGAMATAN
Identitas
Subjek.
Nama :
Alice Victory Siregar
Tempat, Tanggal Lahir :
Jambi, 19 Januari 2012
Umur :
7 Tahun
A.
Bahasa yang Digunakan
Dalam
proses pengamatan, bahasa yang digunakan oleh subjek cenderung menggunakan
bahasa inggris, walaupun terkadang menggunakan bahasa Indonesia.dia hanya
menggunakan bahasa inggris jika berkomunikasi dengan orang tua dan saudaranya. Jika
berbicara dengan orang lain maka dia akan berusaha menggunakan bahasa
Indonesia. Dalam beberapa kesempatan berbicara, dia tampak
seperti berpikir terlebih dahulu untuk berbicara menggunakan bahasa Indonesia. Namun
sekarang sudah cukup baik dalam
penggunaan bahasa Indonesia sebagai bahasa komunikasi, mungkin karena
sudah bersekolah dan teman sekolahnya menggunakan bahasa daerah jambi sebagai
bahasa komunikasi. Beberapa kosa kata
yang digunakan adalah I’m Tired, Choccolate, come here, baby boy, rock, dll.
B.
Gerak tubuh (Gesture)
Dalam
berbicara, subjek tidak terlalu menggunakan gerak tubuh. Bentuk gerak tubuh ketika
berbicara yaitu ketika sedang melakukan kegitan. Misalnya, adik perempuannya
meminta tolong dibukakan cemilan dengan berkata “ open it”, subjek akan
menjawab “oke” dengan segera membuka cemilan tersebut.
Menurut Piaget dan
Vygotsky (dalam Tarigan, 1988) tahap-tahap perkembangan bahasa anak adalah
sebagai berikut.
|
Usia
|
Tahap Perkembangan
Bahasa
|
|
0,0- 0,5
|
Tahap meraban
(pralinguistik) pertama
|
|
0,5-1,0
|
Tahap meraban
(pralinguisti) kedua : kata non sense
|
|
1,0-2,0
|
Tahap linguistik I :
Holofrastik : Kalimat satu kata
|
|
2,0-3,0
|
Tahap linguistik II :
Kalimat dua kata
|
|
3,0-4,0
|
Tahap linguistik III :
Pengembangan tata bahasa
|
|
4,0-5,0
|
Tahap linguistik IV :
Tata bahasa pra dewasa
|
|
5,0
|
Tahap linguistik V :
Kompetensi penuh
|
Komentar
Posting Komentar